Diskusi: “Pemulihan Ekonomi DKI Jakarta Masa Pandemi”

Pada Kamis, 11 Februari 2021, Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta melaksanakan diskusi “Pemulihan Ekonomi DKI Jakarta Masa Pandemi” dengan narasumber Jahen F Rezki, peneliti dari LPEM FEB UI. Diskusi tersebut membicarakan upaya dan strategi yang harus dilakukan pemerintah DKI Jakarta untuk dapat memulihkan perekonomian daerah. Berikut merupakan rangkuman dari hasil diskusi kemarin:

  1. Covid-19 di Indonesia belum selesai melewati first wave ataupun tanda-tanda akan selesai. Ekonom di dunia sepakat bahwa harus mengurangi kasus Covid-19 dulu baru pemulihan ekonomi dapat efektif berjalan. Kalau belum membaik jumlah kasusnya maka ekonominya juga tidak akan baik. Indonesia, pusat ataupun daerah, belum bisa flattening the curve. Untuk bisa menangani kasus prinsip 3T (Test, Tracing, Treatment) harus diutamakan oleh pemerintah.
  2. Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2020 turun sebesar -2,36%. Sektor yang paling terdampak Covid-19, pada Triwulan IV yaitu akomodasi dan makan minum, pengadaan listrik dan gas, industri pengolahan, transportasi, dan perdagangan. Penurunan ekonomi terbesar bersumber dari konsumsi rumah tangga yang menurun, karena masyarakat menunda konsumsi.
  3. Terjadi penurunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita di DKI Jakarta dari 266,79 juta menjadi 260,44 juta. Meskipun penurunan PDRB per kapita terlihat kecil, namun penurunan kemungkinan berasal dari kelompok menengah ke bawah, atau masyarakat yang paling rentan sehingga penurunan PDRB per kapita ini lebih terasa memukul.
  4. Karena pendapatan turun makan konsumsi akan menjadi terbatas, sehingga bantuan dalam bentuk tunai sangat penting, sebagai jaring pengaman juga untuk mendorong aktivitas perekonomian.
  5. Bantuan Sosial Tunai juga perlu dialokasikan untuk pendapatan menengah, bukan hanya untuk kelompok miskin, karena yang kelompok menengah juga rentan jatuh ke jurang kemiskinan. Tidak direkomendasikan bantuan sosial dalam bentuk barang. Selain itu bantuan pendidikan juga penting untuk mencegah lost generation dalam pendidikan.
  6. Usaha atau bisnis belum akan bisa optimal selama Covid-19 karena ada keterbatasan operasional atau mobilitas penduduk masih terbatas. Sehingga perlu mengubah kebiasaan, meningkatkan kegiatan outdoor atau ruang terbuka. Sebagai contoh di New York jalanan dipakai restoran untuk mengurangi transmisi di ruang tertutup.
  7. Relaksasi pajak dapat dilakukan, namun diperlukan timing yang tepat. Perlu dilihat efektivitasnya, kalau tergesa-gesa bisa membuat kontraksi karena pemerintah kekurangan pemasukan
  8. Perlu adanya Identifikasi sumber-sumber penerimaan lain, misal pajak polusi, municipal bond atapun philanthropist.
  9. Anggaran yang ada harus diprioritaskan untuk test covid-19, anggaran pendidikan dan interenet, serta pembuatan taman terbuka.
  10. Hasil dari penelitian LPEM FEB UI dan UNDP mendapati bahwa UMKM ataupun usaha besar terkendala bukan hanya dari segi permodalan tetapi juga akses ke pasar dan distribusi. Sehingga pengusaha dapat diberikan bantuan daya kirim barang untuk sektor UMKM sementara untuk usaha besar adalah bantuan untuk akses ke pasar ekspor.
  • Pembangunan infrastruktur sebaiknya ditunda dulu, karena kurang efektif dilaksanakaan saat Covid-19. Jika harus ada infrastruktur, perlu identifikasi penyerapan tenaga kerjanya, mengutamakan pekerja setempat. Juga unsur dapat dimanfaatkan masyarakat seperti transportasi ataupun infrastruktur internet ke daerah kumuh. Sehingga proyek-proyek besar seperti pembangunan Jakarta International Stadium seharusnya bisa ditunda. Infrastruktur besar baru akan efektif jika dilakukan 2022-2023.
  • Untuk peningkatan penyerapan tenaga kerja perlu diadakan program training. Namun harus jelas identifikasi programnya. Training harus memenuhi kebutuhan industri atau pasar kerja, sehingga tidak terjadi mismatch antara kesempatan dan pencari kerja. Selain itu perlu ada Pooling Market untuk mempercepat placement.

Paparan diskusi serta hasil riset LPEM FEB UI dan UNDP dapat diunduh melalui link berikut: https://bit.ly/PaparanDiskusiPemulihanEkonomi

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn