Fenomena Microspreader

Fraksi DPRD PSI Jakarta melaksanakan diskusi “Fenomena Microspreader” pada 28 Januari 2021. Sulfikar Amir, Associate Professor School of Social Sciences Nanyang Technological University, menjadi narasumber dalam diskusi yang membahas bagaimana fenomena Microspreader dapat terjadi di Indonesia termasuk DKI Jakarta yang rentan dengan micrspreader karena karakter kotanya yang padat penduduk.

Berikut rangkuman hasil diskusi yang telah kami lakukan bersama Sulfikar Amir:

  1. Fenomena wabah penyakit adalah fenomena sosial. Pathogen bagian dari masyarakat untuk tinggal bersama-sama sehingga relasi sosial dapat menjadi penyebab penyebaran penyakit ataupun penyebaran ideologi. Termasuk salah satunya penyebaran virus.
  2. Karena merupakan fenomena sosial maka diperlukan institusi sosial, dalam hal ini pemerintah, untuk membuat kasus menjadi terkendali atau jika gagal kasus akan menjadi liar yang malah membuat garda terdepan justru tenaga kesehatan, dalam hal kasus Covid-19.
  3. Kondisi sosial politik tertentu akan menentukan outcome dari penanganan pandemi, apakah direspon secara teknokratik atau politis. Outcome bukan karena virusnya yang tidak bisa ditangani, tetapi karena kegagalan dalam merespon pandemi.
  4. Ketika Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan kemudian menyebar ke negara-negara lain yang akhirnya menjadi krisis pandemi global. Di Indonesia kasus terkonfirmasi 1 juta orang, jumlah riil dari kasus infeksi di Indonesia bisa 4-5x lipat karena underreported, sehingga memicu fenomena microspreader.
  5. Fenomena superspreader viral loadnya menginfeksi banyak orang dalam satu waktu yang kemudian memunculkan outbreak. Sehingga muncul acuan untuk mengidentifikasi kejadian-kejadian yang bisa menyebabkan fenomena superspreader. Melarang acara-acara besar, ataupun melarang perkumpulan orang-orang yang banyak di ruang sempit dengan ventilasi buruk.
  6. Testing dan tracing merupakan alat untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, kalau tidak terjalankan akan terjadi asymptomatic atau OTG sebesar 40%-60% yang kemudian memicu terjadi microspreader.
  7. Fenomena Microspreader mengikuti Pareto Principle bahwa 80% kasus ditularkan oleh 20% terinfeksi. Sekelompok kecil orang yang memiliki kontribusi dominan ke masyarakat. Microspreader datang dari klaster yang lebih intim seperti klaster keluarga. Di Indonesia sendiri kasus pertama menciptakan klaster keluarga.
  8. Proses penularan microspreader sangat sulit dilacak karena terjadi di ruang-ruang privat, surveillance pemerintah tidak bisa menembus apalagi dengan kapasitas testing yang rendah. Maka akan dengan cepat menulari yang lain dan akhirnya menjadi semakin masif. Hal ini yang terjadi di Pulau Jawa terutama di daerah padat.
  9. Fenomena microspreader menjadi semakin parah di Indonesia karena faktor budaya yaitu budaya sungkan penyebab keengganan konfrontasi ketika ada perilaku berisiko. Budaya ini harus dihilangkan.
  10. Pencegahan microspreader paling efektif dicegah dengan kesadaran mandiri dalam level keluarga. Protokol kesehatan harus tetap dilakukan di manapun, agar tidak timbul risiko penyebaran Covid-19 dari luar ke dalam rumah atau ke keluarga. Di dalam rumah perlu ada zonasi jika ada anggota keluarga yang rentan sementara anggota keluarga lain masih harus beraktivitas di luar rumah.
  11. Peran pemerintah dalam microspreader dengan melarang adanya perkumpulan termasuk kumpul keluarga besar yang dilakukan pada hari raya.
  12. Setelah pelaksanaan vaksinasi pun, pemerintah harus tegas membatasi mobilitas untuk membuat kasus tetap terkendali. Kesalahan dalam sosialisasi vaksinasi justru dapat menjadi faktor baru penyebab Anggapan vaksinasi membuat masyarakat aman dari infeksi virus justru membuat masyarakat lengah untuk beraktivitas tanpa melaksanakan protokol kesehatan. Ketika belum seluruh masyarakat diberikan vaksinasi maka protokol kesehatan harus tetap menjadi strategi utama. 3T+2M (test, tracing, and treatment dan melarang kerumunan dan melarang mobilitas) oleh pemerintah dan 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak) dan oleh masyarakat.
Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn