PSI Nilai Pengawasan Pasar oleh ASN, Pemprov DKI Kurang Efektif

FRAKSI Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta menilai penugasan ribuan aparatur sipil negara (ASN) di pasar kurang maksimal. Hal itu dinyatakan oleh anggotanya yang duduk di Komisi A August Hamonangan. August yang turut datang mengecek Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengatakan kinerja para ASN dalam pengawasan protokol kesehatan di pasar hanya sekadar permukaan saja. Bahkan, ia tidak melihat para ASN tersebut keliling di area Pasar Lenteng Agung. Menurut August, ASN yang berasal dari Kelurahan maupun Kecamatan dinilai lebih aktif dalam mengawasi dan memberikan edukasi kepada masyarakat. “Yang saya temukan hanya petugas Satpol PP sama Damkar sama ASN Kelurahan dan Kecamatan, itu yang aktif berikan edukasi,” kata August saat dihubungi, Senin (6/7). Sementara itu, August menilai ASN dari Pemprov DKI hanya sebatas mengamati secara global. “Iya, kurang aktif. Terus terang menurut saya hanya menunjukkan mereka hadir, kemudian pengamatan secara global di depan saja, lihat-lihat,” ujarnya. Diketahui, Pemprov DKI Jakarta menugaskan sebanyak 5 ribu ASN untuk memantau penerapan protokol kesehatan di 151 pasar. Hal itu termaktub dalam Surat Tugas No 554/081 yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Saefullah.  Menindaklanjuti ST Sekda tersebut, Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta Chaidir menerbitkan Surat Edaran No 4608/082.74 tentang Tim Pemantau Kegiatan/Aktivitas Masyarakat selama PSBB pada Masa Transisi Menuju Masyarakat Sehat, Aman, dan Produktif. Menurut Chaidir, pasar dipilih sebagai lokasi yang diawasi oleh ASN karena banyaknya pengunjung yang belum disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti penggunaan masker dan physical distancing. “Alasanya kan di pasar itu menjadi titik episentrumnya (covid-19) yang terbaru. Diduga banyak pengunjung pasar yang belum disiplin. Dugaan-dugaan tersebut di pasar banyak kontak sosial, memang harus ditekankan kepada masyarakat,” ujarnya. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masa transisi, dinilai Chaidir sebagai momen perubahan masyarakat menuju era kedisipilinan. Dalam hal ini, ia menekankan peran ASN sebagai pelayan masyarakat. “ASN wajib sebagai pelayan masyarakat memberikan edukasi pada masyarakat di sekitar pasar. Sementara kemarin beberapa pasar banyak ditemui ada dugaan yang terpapar covid-19,” paparnya. Ia menyebut hanya 5 ribu dari 63 ribu jumlah ASN di DKI Jakarta yang diterjunkan untuk mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan di pasar. ASN yang akan memantau pasar, sebut Chaidir, adalah yang memiliki usia produktif dan dalam kondisi sehat. “Dalam kondisi di bawah 50 tahun ke bawah dan kondisi sehat, tidak hamil. Semua kita akan mengedukasi sesuai dengan protokol covid-19, sehingga masyarakat paham dan mengerti untuk menagatisipasi penyebaran covid-19,” tandas Chaidir.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn